TUJUAN jelajah kali ini adalah Pulau
Mamburit. Pulau ini sebenarnya masih menjadi bagian dari Desa
Kalisangka, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Hanya saja, Mamburit
terpisah oleh laut dari desa induknya. Sehingga menjadi dusun atau pulau
tersendiri. Yakni, Dusun/Pulau Mamburit. Menuju Mamburit lebih dekat
jika ditempuh melalui Pelabuhan Batu Guluk, Desa Bilis-Bilis,
Kecamatan Arjasa.
Pelabuhan Batu Guluk merupakan pelabuhan
paling besar dan paling ramai di Kangean. Informasinya, dari Batu Guluk
ke Mamburit butuh waktu tak lebih dari 10 menit. Tapi saya memilih
menghampiri Pulau Mamburit melalui Pelabuhan Desa Kalisangka. Itu
karena penduduk Mamburit sendiri lebih sering berlalu-lalang di
pelabuhan ini. Tiap hari ada perahu angkutan umum (warga menyebut
taksian) yang melayani penyeberangan Mamburit-Kalisangka.
Saya carter perahu milik
nelayan Mamburit. Kebetulan, perahu tersebut baru saja selesai
mengantarkan ikan hasil tangkapannya untuk dijual ke pasar ikan. Di
dekat Dermaga Pelabuhan Kalisangka terdapat pasar yang beroperasi dari
pagi hingga jelang siang. Di situ, ikan nelayan dijual. Hermansyah,
pemilik perahu yang saya carter, menyalakan mesin perahu tepat pukul
06.45. Perahu bergerak meninggalkan Pelabuhan Kalisangka dan langsung
diarahkan menuju Pulau Mamburit.
Pukul 06.55 perahu telah berada di
perairan pantai Mamburit. ”Lima menit lagi sudah sampai,” ujar
Hermansyah. Saya minta agar perahu jangan langsung berlabuh, tapi terus
berlayar mengelilingi Pulau Mamburit. Setuju, perahu bergerak dari sisi
utara Pulau Mamburit lalu ke arah barat, selatan, kemudian ke timur.
Lalu ke utara dan ke barat lagi, dan sampai di tempat semula saat jarum
jam menunjuk angka 07.33. Mengitari Mamburit menggunakan perahu hanya
butuh waktu sekitar 48 menit.
Sekali lagi, perahu saya minta
tidak berlabuh terlebih dahulu. Kali ini, saya ingin tahu dan melihat
dengan kepala mata sendiri Taman Laut Mamburit. Taman laut ini
disebutsebut memiliki terumbu karang tak kalah indah dengan Taman
Laut Bunaken. Kata Hermansyah, lokasi taman laut berada di sisi utara
Mamburit, tepatnya kira-kira 500 hingga 1 kilometer dari bibir
pantai. Perahu menuju lokasi dimaksud. Walau tidak begitu jelas, air
yang tenang dan jernih memungkinkan dasar laut dilihat dari
permukaan air.
Namun sayang, hanya sedikit
terumbu karang indah yang saya lihat. Yang banyak justru bongkahan
batu karang mati berwarna kecokelatan. Beberapa batu karang
memancarkan warna kuning dan biru. Di atasnya melambai sesuatu berwarna
putih bening. Terumbu karang yang masih hidup itu terlihat kesepian
lantaran terumbu karang lain di dekatnya telah menjadi bongkahan
batu. Kesaksian Hermansyah, dulu Taman Laut Mamburit memang dipenuhi
terumbu karang warnawarni nan indah.
Tidak hanya itu, terumbu karang menjadi
tempat bermain ikan-ikan cantik. Tapi sekarang, terumbu karang di
sebelah utara Pulau Mamburit terancam punah. Semua itu tidak terlepas
dari tiadanya upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan bawah laut
tersebut. Nelayan bebas menangkap ikan menggunakan bom dan potasium di
sekitar taman laut. Nelayan juga biasa mengambil terumbu karang yang
indah-indah untuk dijual.
Akibatnya, dalam waktu yang tak
terlalu lama, Taman Laut Mamburit telah rusak. ”Di Mamburit
sebenarnya ada penangkar terumbu karang. Tapi untuk dijual bukan untuk
ditanam di laut,” ujar Hermansayah. Puas melihat taman laut, perahu
kembali diarahkan menuju Pulau Mamburit. Perahu langsung menepi di
bibir pantai yang berpasir putih halus. Pulau ini belum memiliki
dermaga atau pelabuhan. Di sisi utara pantai Mamburit terdapat tiang
pancang untuk pembangunan pelabuhan.
Namun, entah kenapa, proses
pembangunan pelabuhan itu berhenti. Informasinya, pelabuhan ini
merupakan proyek Kementerian Perhubungan. Turun dari perahu, saya
bergegas menuju rumah Kepala Dusun (Kadus) Mamburit dengan jalan
kaki. Jalan utama di Mamburit hanya sebagian kecil yang dipaving.
Namun demikian, jalanan dalam kondisi mulus lantaran tersusun atas pasir
padat. ”Meski hujan, jalan di sini (Mamburit) tidak becek Mas,”
imbuh Hermansyah yang turut menemani.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali
dijumpai ibu-ibu duduk santai di bawah pohon rindang sambil
memasak sesuatu. Saya sempatkan mampir sejenak sembari bertanya
sedang memasak apa? ”Merebus sukun,” jawab salah seorang ibu ramah, lalu
tertawa. Tanah Mamburit banyak ditumbuhi pohon sukun. Saya jumpai
pohon sukun tumbuh rindang di dekat permukiman warga. Belakangan
saya ketahui, Mamburit memang terkenal sebagai pulau penghasil sukun.
Selain itu, kanan kiri jalan yang saya
lewati berjejer menjulang pohon kelapa. Beberapa menit kemudian,
akhirnya sampai di rumah Kadus yang berada di tengah Pulau
Mamburit. Kadus Mamburit Hasan S . menceritakan bahwa warganya
bekerja sebagai nelayan. ”Ada nelayan yang menangkap ikan serta ada pula
yang mencari teripang dan kerang. Ada pula warga sini (Mamburit)
yang memelihara ikan kerapu,” katanya. Pantas saja, sewaktu
mengelilingi pulau, terdapat rumah-rumah kecil mengapung di perairan.
Rupanya, rumah-rumah mungil
yang terapung itu merupakan kerambah milik warga yang dijadikan
sebagai tempat memelihara ikan kerapu. Nelayan Mamburit, lanjut
Hasan, juga lihai mencari kerang di dasar laut. Hasan lantas
menunjukkan beberapa jenis kerang hasil tangkapan nelayan setempat. Di
antaranya, kerang timah dan kerang kepala kambing.
Rikazil Fitrahillah, teman dari
Disbudparpora Sumenep membeli satu kerang kepala kambing seharga Rp 5
ribu. Di ujung timur laut Pulau Mamburit berdiri tiang mercusuar
menjulang. Lampu penanda lalu lintas laut itu sering kali jadi tempat
rekreasi warga setempat. Hanya saja, untuk bisa naik ke tiang mercusuar,
harus lebih dulu izin ke penjaganya. (radar)