Rabu, 07 Mei 2014

Maduraku :))

TUJUAN jelajah kali ini adalah Pulau Mamburit. Pulau ini sebenarnya masih menjadi bagian dari Desa Kalisangka, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Hanya saja, Mamburit terpisah oleh laut dari desa induknya. Sehingga menjadi dusun atau pulau tersendiri. Yakni, Dusun/Pulau Mamburit. Menuju Mamburit lebih dekat jika ditempuh melalui Pelabuhan Batu Guluk, Desa Bilis-Bilis, Kecamatan Arjasa.

Pelabuhan Batu Guluk merupakan pelabuhan paling besar dan paling ramai di Kangean. Informasinya, dari Batu Guluk ke Mamburit butuh waktu tak lebih dari 10 menit. Tapi saya memilih menghampiri Pulau Mamburit melalui Pelabuhan Desa Kalisangka. Itu karena penduduk Mamburit sendiri lebih sering berlalu-lalang di pelabuhan ini. Tiap hari ada perahu angkutan umum (warga menyebut taksian) yang melayani penyeberangan Mamburit-Kalisangka.
Saya carter perahu milik nelayan Mamburit. Kebetulan, perahu tersebut baru saja selesai mengantarkan ikan hasil tangkapannya untuk dijual ke pasar ikan. Di dekat Dermaga Pelabuhan Kalisangka terdapat pasar yang beroperasi dari pagi hingga jelang siang. Di situ, ikan nelayan dijual. Hermansyah, pemilik perahu yang saya carter, menyalakan mesin perahu tepat pukul 06.45. Perahu bergerak meninggalkan Pelabuhan Kalisangka dan langsung diarahkan menuju Pulau Mamburit.
Pukul 06.55 perahu telah berada di perairan pantai Mamburit. ”Lima menit lagi sudah sampai,” ujar Hermansyah. Saya minta agar perahu jangan langsung berlabuh, tapi terus berlayar mengelilingi Pulau Mamburit. Setuju, perahu bergerak dari sisi utara Pulau Mamburit lalu ke arah barat, selatan, kemudian ke timur. Lalu ke utara dan ke barat lagi, dan sampai di tempat semula saat jarum jam menunjuk angka 07.33. Mengitari Mamburit menggunakan perahu hanya butuh waktu sekitar 48 menit.
Sekali lagi, perahu saya minta tidak berlabuh terlebih dahulu. Kali ini, saya ingin tahu dan melihat dengan kepala mata sendiri Taman Laut Mamburit. Taman laut ini disebutsebut memiliki terumbu karang tak kalah indah dengan Taman Laut Bunaken. Kata Hermansyah, lokasi taman laut berada di sisi utara Mamburit, tepatnya kira-kira 500 hingga 1 kilometer dari bibir pantai. Perahu menuju lokasi dimaksud. Walau tidak begitu jelas, air yang tenang dan jernih memungkinkan dasar laut dilihat dari permukaan air.
Namun sayang, hanya sedikit terumbu karang indah yang saya lihat. Yang banyak justru bongkahan batu karang mati berwarna kecokelatan. Beberapa batu karang memancarkan warna kuning dan biru. Di atasnya melambai sesuatu berwarna putih bening. Terumbu karang yang masih hidup itu terlihat kesepian lantaran terumbu karang lain di dekatnya telah menjadi bongkahan batu. Kesaksian Hermansyah, dulu Taman Laut Mamburit memang dipenuhi terumbu karang warnawarni nan indah.
Tidak hanya itu, terumbu karang menjadi tempat bermain ikan-ikan cantik. Tapi sekarang, terumbu karang di sebelah utara Pulau Mamburit terancam punah. Semua itu tidak terlepas dari tiadanya upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan bawah laut tersebut. Nelayan bebas menangkap ikan menggunakan bom dan potasium di sekitar taman laut. Nelayan juga biasa mengambil terumbu karang yang indah-indah untuk dijual.
Akibatnya, dalam waktu yang tak terlalu lama, Taman Laut Mamburit telah rusak. ”Di Mamburit sebenarnya ada penangkar terumbu karang. Tapi untuk dijual bukan untuk ditanam di laut,” ujar Hermansayah. Puas melihat taman laut, perahu kembali diarahkan menuju Pulau Mamburit. Perahu langsung menepi di bibir pantai yang berpasir putih halus. Pulau ini belum memiliki dermaga atau pelabuhan. Di sisi utara pantai Mamburit terdapat tiang pancang untuk pembangunan pelabuhan.
Namun, entah kenapa, proses pembangunan pelabuhan itu berhenti. Informasinya, pelabuhan ini merupakan proyek Kementerian Perhubungan. Turun dari perahu, saya bergegas menuju rumah Kepala Dusun (Kadus) Mamburit dengan jalan kaki. Jalan utama di Mamburit hanya sebagian kecil yang dipaving. Namun demikian, jalanan dalam kondisi mulus lantaran tersusun atas pasir padat. ”Meski hujan, jalan di sini (Mamburit) tidak becek Mas,” imbuh Hermansyah yang turut menemani.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali dijumpai ibu-ibu duduk santai di bawah pohon rindang sambil memasak sesuatu. Saya sempatkan mampir sejenak sembari bertanya sedang memasak apa? ”Merebus sukun,” jawab salah seorang ibu ramah, lalu tertawa. Tanah Mamburit banyak ditumbuhi pohon sukun. Saya jumpai pohon sukun tumbuh rindang di dekat permukiman warga. Belakangan saya ketahui, Mamburit memang terkenal sebagai pulau penghasil sukun.
Selain itu, kanan kiri jalan yang saya lewati berjejer menjulang pohon kelapa. Beberapa menit kemudian, akhirnya sampai di rumah Kadus yang berada di tengah Pulau Mamburit. Kadus Mamburit Hasan S . menceritakan bahwa warganya bekerja sebagai nelayan. ”Ada nelayan yang menangkap ikan serta ada pula yang mencari teripang dan kerang. Ada pula warga sini (Mamburit) yang memelihara ikan kerapu,” katanya. Pantas saja, sewaktu mengelilingi pulau, terdapat rumah-rumah kecil mengapung di perairan.
Rupanya, rumah-rumah mungil yang terapung itu merupakan kerambah milik warga yang dijadikan sebagai tempat memelihara ikan kerapu. Nelayan Mamburit, lanjut Hasan, juga lihai mencari kerang di dasar laut. Hasan lantas menunjukkan beberapa jenis kerang hasil tangkapan nelayan setempat. Di antaranya, kerang timah dan kerang kepala kambing.
Rikazil Fitrahillah, teman dari Disbudparpora Sumenep membeli satu kerang kepala kambing seharga Rp 5 ribu. Di ujung timur laut Pulau Mamburit berdiri tiang mercusuar menjulang. Lampu penanda lalu lintas laut itu sering kali jadi tempat rekreasi warga setempat. Hanya saja, untuk bisa naik ke tiang mercusuar, harus lebih dulu izin ke penjaganya. (radar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar